Batu Loncatan
Karena dengan Engkau aku berani menghadapi geromolan, dan dengan Allahku aku berani melompati tembok. (Mazmur 18:30)
Ada seorangĀ petani yang mempunyai seekor keledai. Bertahun-tahun sudah keledai itu mengabdi pada tuannya, dan karena usianya yang semakin tua, tenaganya pun berkurang. Siang itu, sang keledai sedang mencari makan disekitar sumur tua sehingga tanpa sadar kakinya terperosok ke dalam sumur. Ketika mengetahui apa yang terjadi dengan keledainya, si petani berpikir bahwa keledai itu sudah tidak begitu kuat lagi untuk bekerja dan sudah tidak menguntungkan lagi baginya. Maka si petani bermaksud menguburnya hidup-hidup di dalam sumur. Diambilnya sebuah sekop lalu ia mulai menjatuhkan bongkahan-bongkahan tanah ke dalam sumur. Tetapi setiap kali tanah-tanah itu jatuh ke atas punggung keledai itu, ia langsung menggoyang-goyangkan tubuh dan kepalanya, sehingga tanah-tanah tersebut jatuh ke bawah. Tanah-tanah yang jatuh itu justru dijadikannya sebagai pijakan, karena semakin banyak tanah yang dijatuhkan, maka semakin tinggilah pijakan keledai itu. Hingga pada akhirnya ia bisa melompat keluar dari sumur dengan selamat.
Dalam dunia kerja pasti ada saja masalah yang datang silih berganti setiap harinya. Tidak jarang masalah dan tantangan yang timbul membuat kita stress dan tidak berdaya. Tetapi disaat itulah karakter kita baru teruji. Apakah kita termasuk pribadi yang cepat putus asa dan menyerah atau sebaliknya tegar dan tangguh. Belajarlah melihat persoalan sebagai kesempatan dan batu loncatan untuk mengembangkan karir kita ke tingkat yang lebih tinggi sehingga kita layak disebut sebagai pemenang.
Mari, jadikan setiap keadaan yang tidak menyenangkan di tempat kerja sebagai alat yang dipakai Tuhan untuk menjadikan kita pribadi yang kuat dan hebat.
Renungan : Kegagalan semestinya merupakan batu loncatan, bukan batu gilingan (Abraham Lincoln)
Hikmat Profesi (Juni 2009)











Leave your response!